8 Hari Sejak Tsunami, Warga Pantai Carita Masih Takut Pulang

Warga Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, sejak delapan hari terakhir pascabencana tsunami masih bertahan di pengungsian di Gunung Durung.
Newswire | 31 Desember 2018 14:12 WIB
Sebuah sepeda anak tertinggal di lokasi bencana tsunami di Carita, Banten, Senin (24/12/2018). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, PANDEGLANG – Warga Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, sejak delapan hari terakhir pascabencana tsunami masih bertahan di pengungsian di kawasan Gunung Durung untuk berlindung dari ancaman gelombang besar.

"Kita lebih baik tinggal di pengungsian dulu, sebelum dinyatakan aman dari ancaman bencana tsunami," kata Ketua RT Kampung Gunung Durung Anda Suhenda, Senin (31/12/2018).

Penduduk Kampung Durung yang lokasi di pesisir Pantai Carita cukup parah terdampak terjangan gelombang tsunami. Saat ini, jumlah warga yang mengungsi di kawasan Gunung Durung sekitar 200 kepala keluarga (KK).

Mereka tinggal di pengungsian Gunung Durung menempati rumah keluarga, masjid dan sekolah.

"Kami siap kembali ke rumah setelah ada kejelasan dan pengumuman yang dikeluarkan pemerintah daerah," kata Anda.

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di pengungsian belum berani kembali ke rumah, karena kondisi Gunung Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan letusan dan bencana tsunami itu akibat longsoran dari tubuh Anak Krakatau.

Apabila, aktivitas kegempaan Anak Krakatau sudah kembali normal dan kemungkinan warga kembali ke rumah.

Saat ini, ujar Anda, sebagian warga yang berani melihat rumahnya hanya pada siang hari dan mereka tetap tidur di pengungsian.

Dia mengapresiasi penyaluran logistik baik dari pemerintah daerah, BUMN, perusahaan swasta, perguruan tinggi, dan berbagai elemen masyarakat.

Bantuan logistik yang disalurkan berupa bahan pokok, mie instan, minuman kemasan, susu, tikar, selimut dan pakaian bekas, cukup lancar, sehingga warga yang tinggal di pengungsian tercukupi kebutuhan makan dan minum. Selain itu, tersedia dapur umum, termasuk pelayanan kesehatan.

"Kami bersama warga merasa aman dan nyaman juga tidak kekurangan makanan," kata Anda.

Rani, salah seorang warga yang mengungsi mengaku hingga kini masih trauma karena masih teringat terjangan gelombang besar yang menakutkan.

Menurut dia, terjangan gelombang tsunami sebanyak tiga kali diawali suara gemuruh hingga merobohkan rumah miliknya. Beruntung tsunami itu begitu cepat surut dan tidak ada lagi gelombang susulan.

"Kami tidak membayangkan jika tsunami itu berlangsung 20 menit dan ada ombak susulan dipastikan warga banyak korban jiwa," tuturnya.

Dia mengaku dirinya dan keluarga cepat berlarian untuk menyelamatkan ke kawasan Gunung Durung yang lokasinya tidak begitu jauh.

Saat ini, kawasan Gunung Durung dinyatakan aman dari gelombang besar karena letaknya perbukitan. "Kami memperkirakan ketinggian gelombang tsunami itu sekitar 6 meter," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Tsunami Selat Sunda

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top