Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

14 Kecamatan di Lebak Banten Rawan Pergerakan Tanah

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Provinsi Banten menyebutkan 14 kecamatan di daerah ini masuk kategori rawan pergerakan tanah atau longsoran, karena topografinya perbukitan dan pegunungan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Desember 2019  |  22:35 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, LEBAK - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Provinsi Banten menyebutkan 14 kecamatan di daerah ini masuk kategori rawan pergerakan tanah atau longsoran, karena topografinya perbukitan dan pegunungan.

"Jika curah hujan tinggi cukup berpotensi terjadi pergerakan tanah dan longsor," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, Kaprawi, di Lebak, Kamis (12/12/2019).

BPBD Lebak kini meningkatkan kesiapsiagaan bencana alam sehubungan curah hujan cenderung meningkat, bahkan curah hujan sudah merata di 28 kecamatan.

Kewaspadaan itu, kata dia, dikhawatirkan terjadi potensi pergerakan tanah dan longsoran. Sebab, masyarakat Lebak yang tinggal di daerah rawan bencana alam mencapai ribuan kepala keluarga.

Mereka tinggal di sekitar perbukitan dan pegunungan dan rawan terjadi pergerakan tanah dan longsor jika curah hujan tinggi.

Menurut dia, BPBD Lebak memetakan sebanyak 14 kecamatan masuk kategori rawan longsor dan tanah bergerak meliputi, Kecamatan Banjarsari, Muncang, Leuwidamar, Bayah, Cipanas, Gunungkencana, Lebakgedong, Cimarga, Sobang, Cibeber, Cilograng, Pangarangan, Cihara, dan Cigemblong.

Dari 14 kecamatan itu,mereka kebanyakan masyarakat yang berada di kaki gunung Halimun Salak.

"Kami menyampaikan kepada aparat kecamatan, desa dan relawan bila hujan terus menerus maka sebaiknya warga mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk mengurangi risiko kebencanaan," jelas Kaprawi.

Ia juga mengatakan, pihaknya juga berkoordinasi penanganan kebencanaan dengan melibatkan TNI, Polri, PMI, Dinkes, DPUPR, PLN, relawan, Tagana dan lainnya.

Selama ini, kata dia, dengan koordinasi itu dapat menangani pascabencana untuk mempercepat pemulihan infrastruktur jika terjadi tanah bergerak atau longsor.

Ia juga sudah mempersiapkan peralatan evakuasi seperti, pakaian pelampung, perahu karet, logistik, obat-obatan, gergaji mesin, tenda, dan dapur umum, ambulans dan angkutan operasional roda empat serta motor.

"Kami siaga selama 24 jam menghadapi cuaca buruk itu untuk melayani masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana," kata Kaprawi.

Sementara itu, Ketua RT 01/ RW 01 Kampung Cikuning Jampang Desa Sudamanik Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak Ubay mengatakan masyarakat di sini siaga menghadapi curah hujan tinggi karena masuk daerah langganan pergerakan tanah.

Bahkan, pergerakan tanah tahun 2018 mengakibatkan sekitar 115 rumah kondisinya rusak yang dihuni 200 kepala keluarga (KK) dengan 495 jiwa.

Dari 115 unit rumah yang rusak itu di antaranya 36 unit rumah terpaksa dirobohkan karena khawatir menimbulkan korban jiwa.

"Kami semua warga di sini jika hujan tinggi mengungsi ke tempat yang lebih aman," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

banten

Sumber : Antara

Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top