Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demi Kebutuhan Ekonomi, Nelayan Labuan Pandeglang Nekat Melaut

Desakan ekonomi memaksa nelayan di Teluk Labuan, Kabupaten Pendeglang Provinsi Banten, nekat menangkap ikan kendati gelombang tinggi melanda perairan Sulat Sunda.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  11:21 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Banten, Kamis (27/12/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Banten, Kamis (27/12/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, PANDEGLANG - Desakan ekonomi memaksa nelayan di Teluk Labuan, Kabupaten Pendeglang Provinsi Banten, nekat menangkap ikan kendati gelombang tinggi melanda perairan Sulat Sunda.

Mereka nekat melaut, meski kondisi Perairan Selat Sunda kurang bersahabat dengan gelombang tinggi disertai angin kencang dan hujan.

"Kami dan nelayan lain di sini tetap melaut karena desakan ekonomi," kata Yanto, seorang nelayan Teluk Labuan Pandeglang, Selasa (23/6/2020) seperti dilaporkan Antara.

Nelayan Teluk Labuan Pandeglang mengetahui cuaca buruk di Perairan Selat Sunda yang mengakibatkan sebanyak 16 nelayan mengalami kecelakaan setelah KM Puspita Jaya dihantam gelombang tinggi.

Dari 16 nelayan itu, sembilan orang selamat dan tujuh orang lainnya hilang dan mereka hingga lima hari terakhir ini belum ditemukan.

Meski demikian, nelayan di sini tetap melaut karena desakan ekonomi keluarga.

"Kami melaut pagi dan kembali ke Teluk Labuan Pandeglang sore hari," katanya menjelaskan.

Karta, nelayan lain, bersama teman lainnya nekat melaut, meski cuaca membahayakan dengan gelombang tinggi disertai angin kencang.

Bahkan, dirinya Senin (22/6) terpaksa berlindung di sekitar pulau kecil di Perairan Selat Sunda untuk menghindari cuaca buruk tersebut.

"Kami sudah biasa jika gelombang tinggi disertai angin kencang bisa menyelamatkan diri dengan berlindung di pulau kecil itu," ujarnya.

Menurut dia, saat ini sulit menangkap ikan akibat cuaca kurang bersahabat sehingga terkadang dia pulang dengan tangan kosong.

Kebanyakan nelayan di sini nelayan tradisional dengan menggunakan mesin motor sehingga mereka mencari ikan di sekitar perairan Pulau Panaitan dan Pulau Rakata.

Sebab, di perairan tersebut banyak ikan tongkol, selam, kue dan cumi-cumi.

"Kami terkadang menangkap ikan di sekitar Pulau Rakata mendapat ikan sebanyak satu ton dan bisa membawa uang bersih Rp1,5 juta," katanya.

Sementara itu, Kasubsi Basarnas Banten Heru mengimbau nelayan tetap harus waspada gelombang tinggi disertai angin kencang karena beberapa hari terakhir ini Perairan Selat Sunda kurang besahabat.

"Kami hari ini tengah melakukan pencarian tujuh nelayan Teluk Labuan Pandeglang yang hilang hingga hari kelima belum ditemukan akibat gelombang tinggi dan angin kencang juga hujan deras," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nelayan selat sunda pandeglang

Sumber : Antara

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top