Lebaran, Inflasi Banten Melonjak

Oleh: Amanda Kusumawardhani 25 Juli 2016 | 21:51 WIB
Kantor Bank Indonesia/Reuters-Darren Whiteside

Bisnis.com, TANGERANG-- Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten memperkirakan inflasi pada Juli 2016 bakal mencapai kisaran 0,9%-1,2% (year-on-year/yoy).

Prediksi tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan periode Juli tahun lalu yang juga bersamaan dengan momen lebaran yakni 0,83%.

"Angka ini juga hampir sama dengan proyeksi inflasi nasional karena terjadi peningkatan konsumsi pada saat lebaran," kata Manajer Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan BI Provinsi Banten Jenidar Oseva kepada Bisnis, Senin (25/7).

Berdasarkan survei yang dilakukan BI Banten, komoditas penyumbang inflasi kali ini antara lain bawang merah, cabe merah, emas, daging sapi, dan daging ayam.

"Sepanjang semester II/2016, inflasi Banten terjaga di angka 3,78% yoy," jelasnya.

Untuk semester kedua tahun ini, dirinya mengungkapkan potensi kenaikan inflasi cukup besar dari komponen admistered price jika pemerintah mencabut subsidi listrik.

Pasca lebaran tahun ini, harga komoditas bahan pangan di kawasan Tangerang Raya masih belum berada di level normal sejak lebaran tahun ini.

Di lain pihak, terjaganya inflasi di Provinsi Banten merupakan faktor kunci terhadap penurunan angka kemiskinan di kawasan ini.

Mengutip data BPS, jumlah penduduk miskin di Banten mencapai 658.110 orang pada Maret 2016 atau turun dari periode Maret 2015 sebanyak 702.400 orang. Selang periode Maret 2011-Maret 2016, jumlah penduduk miskin di Banten cukup berfluktuasi.

“Fluktuasi jumlah penduduk miskin di Banten sangat bergantung terhadap laju inflasi di kawasan ini. Dalam beberapa waktu terakhir, inflasi terpantau stabil sehingga hal tersebut berkorelasi positif terhadap angka kemsiskinan,” ungkap Kepala BPS Banten Agoes Soebeno.

Dirinya menyebutkan, jumlah penduduk miskin pada September 2013 sempat melonjak tinggi hingga 3,86% dibandingkan Maret 2013 akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Setelah itu, pada Maret 2013, jumlah penduduk miskin sempat mengalami penurunan mencapai 622.840 orang dan kembali naik pada September 2014-Maret 2015. Sejak saat itu, angka kemiskinan konsisten mengalami penurunan.

Melihat korelasinya dengan laju inflasi, dirinya mengungkapkan peran komoditi makanan cukup signifikan dibandingkan komoditi nonmakanan terhadap fluktuasi jumlah penduduk miskin di Banten. Sebagaimana diketahui, angka inflasi di Banten masih bergantung terhadap komoditas makanan, terutama volatile foods.

 

 

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya