Tahun Depan, Banten Tetap Fokus 3 Program Prioritas

Oleh: Newswire 25 Oktober 2018 | 20:23 WIB
Tahun Depan, Banten Tetap Fokus 3 Program Prioritas
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan jalan tol Kunciran-Serpong, jaringan dari tol Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2), di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (19/9/2018). Infrastruktur merupakan salah satu fokus pembangunan Provinsi Banten./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, SERANG – Hasil pembahasan rencana Kebijakan Umum Anggaran - Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) RAPBD Banten 2019 masih memfokuskan pada tiga program prioritas yakni infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

"Hasil pembahasan tadi masih fokus pada tiga prioritas, yaitu infrastruktur, kesehatan dan pendidikan," kata Kepala Biro Administrasi Pembangunan (Adpem) Pemprov Banten Mahdani usai rapat pembahasan RKUA-PPAS RAPBD Banten 2019 di Serang pada Kamis (25/10/2018).

Dia mengemukakan untuk bidang infasrtruktur, Pemprov Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan menyelesaikan pembangunan jalan provinsi yang masih tersisa yakni sekitar 86 kilomter yang ditargetkan selesai pada 2019.

"Untuk jalan provinsi semuanya harus selesai 2019. Nanti kalau jalan sudah selesai, anggarannya bisa untuk program lainnya," tuturnya.

Untuk bidang kesehatan, kata Mahdani, Pemprov Banten menganggarkan untuk pengadaan lahan dan pembangunan fisik seperti pembangunan rumah sakit jiwa, pengadaan lahan untuk rumah sakit tipe D di Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, dan di perbatasan Banten dengan Sukabumi, Jawa Barat, serta pembangunan panti rehabilitasi narkoba.

"Disiapkan pula dana untuk pembangunan sport center yang dianggarkan sekitar Rp80 miliar pada 2019, tetapi itu nanti multiyears karena kebutuhannya cukup besar. Kebutuhannya Rp1 triliun kurang sedikit, diharapkan selesai dalam 3 tahun," kata Mahdani.

Untuk bidang pendidikan, kata Mahdani, Pemprov Banten melalui APBD 2019 akan menaikkan besaran Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) dari sebelumnya Rp3,75 juta per siswa menjadi Rp5,4 juta per siswa pada 2019.

"Bosda untuk siswa SMK [sekolah menengah kejuruan] lebih besar yakni Rp5,4 juta dan SMA [sekolah menengah atas] Rp5 juta. SMK lebih besar karena kejuruan kebutuhannya lebih tinggi," kata Mahdani.

Sumber : Antara

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya