Sektor Pertanian di Wilayah BI Malang Triwulan III Tumbuh Melambat

Oleh: Choirul Anam 11 Oktober 2018 | 17:34 WIB
Sektor Pertanian di Wilayah BI Malang Triwulan III Tumbuh Melambat
Plt Kepala KPw BI Malang Faturachman (kiri) saat menyerahkan penghargaan pada responden berdedikasi pada Temo Responden 2018 KPw BI Malang di Malang, Kamis (11/10/2018)./Bisnis-Choirul Anam


Bisnis.com, MALANG — Pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan di wilayah kerja Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang pada triwulan III/2018 diperkirakan melambat sejalan dengan musim kemarau.

Plt Kepala KPw BI Malang Faturachman mengatakan kegiatan usaha sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan pada triwulan II/2018 justru meningkat bila dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Hal itu terindikasi dari saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 2,81% meningkat dari 2,40% pada triwulan I/2018 mengacu hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Trwiulan III/2018 oleh KPW BI Malang,” katanya di sela-sela Temu Responden 2018 KPw BI Malang di Malang, Kamis (11/10/2018).

Berdasarkan subsektor, kata dia, ekspansi kegiatan usaha terjadi pada subsektor pertanian tanaman perkebunan (SBT 0,92%) dan tanaman bahan makanan (SBT 0,90%).

Menurut sebagian responden, peningkatan kegiatan usaha pada triwulan II/2018 didukung oleh kondisi cuaca yang baik untuk aktivitas pertanian sehingga berdampak pada hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Sejalan dengan ekspansi kegiatan usaha, tingkat penggunaan tenaga kerja sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan pada triwulan II/2018 meningkat.

Hal ini terindikasikan dari SBT jumlah tenaga kerja sebesar 0,87%, meningkat dari 0,81% pada triwulan I/2018. Berdasarkan subsektor lapangan usaha, sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha, peningkatan jumlah tenaga kerja terutama terjadi pada subsektor pertanian tanaman bahan makanan (SBT 0,45%) dan subsektor perikanan (SBT 0,23%).

Pada triwulan III/2018, kegiatan usaha sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan diperkirakan tumbuh melambat. SBT kegiatan usaha pada triwulan III/2018 sebesar 0,40%, melambat dari 2,81% pada periode sebelumnya.

Berdasarkan rincian subsektor, pelambatan terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan dengan SBT 0,60% lebih rendah dari 0,90% pada triwulan II/2018, sejalan dengan musim kemarau.

Dari sisi tenaga kerja, pelambatan kegiatan usaha pada triwulan III/2018 berdampak pada penggunaan tenaga kerja yang tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan II/2018.

Hal ini sebagaimana terindikasi dari SBT jumlah tenaga kerja pada triwulan III/2018 yang turun menjadi sebesar 0,22% dari 0,87% pada triwulan II/2018.

Berdasarkan subsektor lapangan usaha, peningkatan jumlah tenaga kerja terutama diperkirakan terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan dengan SBT sebesar 0,05%, turun dari 0,45% pada periode sebelumnya.

Subsektor peternakan, kata Faturachman, diperkirakan melambat pertumbuhannya terkait dengan masalah harga ayam pedaging dan telur dan turun tajam sejak September. Di sisi lain, harga jagung yang menjadi bahan utama pakan ternak melonjak tinggi.

“Semoga masalah ini dapat ditemukan solusi oleh pemerintah sehingga usaha peternakan rakyat, baik peternakan ayam pedaging dan petelur bisa tetap eksis. Intinya usaha peternakan rakyat tersebut harus dilindungi,” ungkapnya.

Dia berharap, pemerintah dapat menemukan formula yang intinya petani dapat memperoleh jagung dengan harga terjangkau, namun tidak menjadikan harga jagung turun tajam sehingga menjadi disinsentif bagi petani untuk menanam komoditas tersebut.

Dalam jangka panjang, maka ekstensifikasi tanaman jagung menjadi pilihan agar masalah pasokan jagung ke peternak dan perusahaan feed mill aman dan tidak memerlukan impor yang berdampak mengganggu cadangan devisa.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer