Hadapi Fintech, BPR-BPRS Perlu Perkuat Pasar Komunitas

Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR-BPRS) perlu memperkuat pasarnya, yakni di tingkat komunitas di daerah, agar tetap eksis menghadapi serbuan Fintech dan Laku Pandai perbankan serta dana murah, KUR.
Choirul Anam | 09 Juli 2018 06:47 WIB
Direktur Eksekutif LPS Didik Madiyono (paling kiri) bersama Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo (dua dari kiri), dan Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia Joko Suyanto (tiga dari kiri) saat meninjau booth LPS pada HUT BPR-BPRS di Malang, Minggu (8/7/2018). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR-BPRS) perlu memperkuat pasarnya, yakni di tingkat komunitas di daerah, agar tetap eksis menghadapi serbuan Fintech dan Laku Pandai perbankan serta dana murah, KUR.

Kepala OJK Jatim Heru Cahyono mengatakan bagaimana pun kehadiran Fintech dan Laku Pandai serta dikucurkannnya KUR menjadi tantangan bagi BPR-BPRS.

“Namun BPR-BPRS sebenarnya mempunyai keunggulan kompetitif bila dibandingkan bank umum dan lembaga jasa keuangan lainnya, yakni kedekatan emosional dengan nasabahnya,” katanya di sela-sela HUT BPR-BPRS di Malang, Minggu (8/7/2018).

Karena itulah, BPR-BPR terus menjaga kedekatan emosional dengan nasabahnya, seperti komunitas UMKM di daerah-daerah. Yang juga penting dilakukan BPR-BPRS, kehadirannya diharapkan tidak hanya dari sisi pemenuhan kebutuhan pembiayaan UMKM, namun juga dari sisi pembinaan.

Karena itulah, SDM di BPR-BPRS perlu terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan kehadiran fintech, Laku Pandai serta penyaluran KUR.

Terkait dengan tren uang ketat yang terjadi saat ini, kata dia, maka collecting dari BPR-BPRS harus bagus agar tidak menekan NPL. Karena itulah, BPR-BPRS perlu melakukan collecting harian agar tidak memberatkan nasabah, namun juga mengurangi risiko kenaikan NPL.

Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo menegaskan peran BPR-BPRS dalam mengembangkan UMKM sangat strategis karena posisi kantornya ada di hampir setiap wilayah. Setiap kecamatan selalu ada kantor BPR-BPRS.

Direktur Eksekutif LPS Didik Madiyono membenarkan sinyalemen tersebut dengan menyebut saat ini terdapat 1700-an BPR dan BPRS yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia dan memiliki peran yang penting dalam mendukung sektor riil khususnya UMKM

Keberadaan BPR dan BPRS membantu pemerintah dalam meningkatkan akses perbankan bagi seluruh lapisan masyarakat

“LPS konsisten mendukung kemajuan industri perbankan dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui program penjaminan simpanan nasabah bank termasuk BPR dan BPRS,” ucapnya.

Dia juga meyakinkan, simpanan di BPR dan BPRS semakin meningkat (13%, Des 2017 secara YoY) membuktikan bahwa tingkat kepercayaan nasabah juga meningkat

“Sesuai dengan makna Logo Bersama BPR dan BPRS, LPS berharap agar BPR dan BPRS terus bergerak maju, makin profesional dan makin terpercaya,” ucapnya.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia Joko Suyanto menegaskan BPR-BPRS selalu berusaha melakukan efisiensi agar kinerjanya semakin bagus.

Cara yang bisa ditempuh, seperti mengupayakan menarik dana murah bila dibandingkan dana mahal. Saat ini, komposisi DPK BPR-BPRS masih didominasi dana mahal, yakni tabungan 20%, deposito 55%, dan linkage 25%. Idealnya ke depan dibalik yakni tabungan 55%, deposito 20%, dan linkage 25%.

Heru mengemukakan, kredit BPR-BPRS di Jatim masih tumbuh positif. Sampai dengan Mei 2018, pertumbuhannya mencapai 8%, sedangkan NPL-nya mencapai 6%, dan CAR-nya 33%.

“Meski NPL masih di atas batas toleransi OJK, tapi sebenanrya masih aman karena BPR-BPRS dalam menjual kreditnya menetapkan bunga relatif lebih besar daripada bank umum,” ujarnya.

Tag : bpr, bprs
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top