EDUKASI DUIT: Begini Bedanya Memahami Aset Antara Kelompok Atas dan Kelompok Menengah

Oleh: News Writer 15 Februari 2018 | 09:15 WIB
EDUKASI DUIT: Begini Bedanya Memahami Aset Antara Kelompok Atas dan Kelompok Menengah
Goenardjoadi Goenawan. / Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Kali ini, saya ingin bercerita mengenai cara setiap kelompok masyarakat, golongan karyawan, kelompok menengah, dan masyarakat atas dalam memaknai aset yang dikelolanya.

Kelompok karyawan golongan menengah dan golongan atas itu ilustrasinya seperti terminologi keuangan. Penghasilan kelompok masyarakat menengah atau biasanya para karyawan, habis untuk memenuhi pengeluaran.

Pengeluaran bisa beragam, mulai dari gaya hidup, pengeluaran yang sifatnya konsumtif, beli pakaian, cicilan kartu kredit, rekreasi, beli gawai, dan lainnya. Akhirnya, aset atau investasi terlupakan. Kalaupun ada investasi, pertumbuhannya tak optimal. (lihat ilustrasi di bawah)

Lalu, kelompk kelas atas mereka akan mengelola aset,  menyewakan rumah,  apartemen,  memiliki usaha,  membeli investasi,  membayar pendidikan,  membeli emas, meniti exposure sebagai pembicara,  membangun networking,  bekerja sosial dan kegiatan filantropi.

Teori kesenjangan ekonomi itu meliputi golongan menengah. Mereka yang terdampak kesenjangan adalah golongan karyawan.  Kalau golongan bawah dari dulu ya mengandalkan subsidi Kartu Jakarta Pintar (KJP) atau kartu BPJS.  Namun golongan menengah yang selalu menjadi korban. Mengapa?

1. Karyawan bekerja mendapatkan upah.  Upah ukuran nya tunai cash,  yaitu tergantung kepada data inflasi.  Masih banyak orang tidak sadar bahwa dipikir bank menerima tabungan masyarakat dan menyalurkan kredit.  Tidak. Antara tabungan dan kredit bank dua dunia lain. 

2. Kredit bank diberikan sebanyak 30 kali lipat uang tunai.  Kredit bank terus bertambah setiap saat menambah supply uang akibatnya nilai tunai menurun. 

Oleh karena itu,  dunia karyawan yang tergantung tunai terus terdesak menyusut nilainya.  Mengikuti grafik kenaikan harga tanah di Kuala Lumpur dalam 10 tahun naik 7 kali lipat sedangkan gaji naik 2 kali lipat ini setara dengan gaji UMR Rp7 juta tetapi harga rumah jadi Rp3 miliar. Setara 30 tahun gaji.  Alhasil ketinggalan jauh.

Dunia kredit bank terus berkembang,  oleh karena itu definisi uang bukan tunai namun kredit.  Akses kepada bank adalah u(t)ang yang sesungguhnya.  Sebanyak 97% uang beredar berbentuk kredit komersial bank.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Editor: Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer