Ditemukan Antibiotik Baru dari Tanah, Apakah Itu?

Oleh: Asteria Desi Kartika Sari 14 Februari 2018 | 12:23 WIB
Ditemukan Antibiotik Baru dari Tanah, Apakah Itu?
Ilustrasi/telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA — Ada penemuan baru antibiotik dalam sampel tanah. Tim Peneliti di Universitas Rockefeller berharap senyawa alami dapat digunakan untuk memerangi infeksi yang sulit ditangani.

Berdasarkan pengujian, senyawa yang disebut dengan malacidin memusnahkan beberapa penyakit bakteri yang telah menjadi resisten terhadap kebanyakan antibiotik yang ada, termasuk MRSA superbug. Menurut para ahli, karya yang dipublikaskan di Nature Microbiologi itu menawarkan harapan baru.

Penyakit yang resistan terhadap obat merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Mereka membunuh sekitar 700.000 orang per tahun, dan perawatan baru sangat dibutuhkan.

Obat dari kotoran

Tanah penuh dengan beragam jutaan mikroorganisme yang menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru.

Tim Dokter Sean Brady di New York Rockefeller University telah sibuk menggali. Mereka menggunakan teknik sekuensing gen untuk menganalisis lebih dari 1.000 sampel tanah yang diambil dari seluruh AS.

Saat menemukan malacidin di banyak sampel, mereka memiliki firasat bahwa ini adalah temuan yang penting.

Para peneliti sekarang berupaya meningkatkan efektivitas obat dengan harapan bisa dikembangkan bagi pengobatan manusia.

"Tidak mungkin mengatakan kapan, atau bahkan jika penemuan antibiotik tahap awal seperti malacidin ini akan dilanjutkan ke klinik. Ini adalah jalan yang panjang dan sulit dari penemuan awal antibiotik ke entitas yang secara klinis digunakan,” katanya seperti dikutip BBC.

Sementara itu, Colin Garner dari Antibiotic Research UK mengatakan bahwa menemukan antibiotik baru untuk mengobati infeksi gram positif seperti MRSA adalah kabar baik, namun tidak akan membahas kebutuhan yang paling mendesak.

"Kekhawatiran kami adalah bakteri gram negatif yang sangat sulit diobati dan resistensinya meningkat. Bakteri gram negatif menyebabkan pneumonia, darah dan infeksi saluran kemih karena infeksi kulit. Kita membutuhkan antibiotik baru untuk merawat kelas ini," ujarnya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer