ANGKUTAN UDARA : AirNav Optimalkan Penerbangan Selatan Jawa

Oleh: Rivki Maulana 26 Januari 2018 | 02:00 WIB
AirNav Indonesia./JIBI

TASIKMALAYA - Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia bakal mengoptimalkan jalur penerbangan di selatan Jawa dengan meningkatkan level navigasi di tiga bandara dan membuka rute Tango One.

Novie Riyanto, Direktur Utama Perum LPPNPI/AirNav Indonesia, menjelaskan layanan navigasi penerbangan di jalur selatan akan ditingkatkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Dia menambahkan ada tiga bandara yang menjadi fokus AirNav untuk ditingkatkan level navigasinya yaitu Bandara Wiriadinata Tasikmalaya, Bandara Wirasaba Purbalingga, dan Bandara New Yogyakarta International Airport di Kulon Progo.

Di Tasikmalaya, AirNav Indonesia akan merenovasi menara dan memperbaiki peralatan navigasi.

“Kami akan ganti instrumen IDF [Automatic Direction Finder], itu generasi pertama yang sudah tua. Kami akan pasang VOR DME [VHF Omni Range Distance Measuring Equipment] untuk meningkatkan visibility saat pesawat akan mendarat,” jelasnya di Tasikmalaya, Kamis (25/1).

Untuk di Purbalingga, AirNav Indonesia akan melakukan pengembangan bandara baru dengan berkolaborasi bersama TNI Angkatan Udara, pemerintah daerah, dan pengelola bandara. Menurutnya, operasional sipil Bandara Wirasaba dijadwalkan pada Desember 2019.

Adapun di Kulon Progo, AirNav Indonesia telah mengalokasikan dana senilai Rp79,6 miliar untuk investasi pembangunan Tower beserta peralatan fasilitas pendukungnya.

Langkah penting lain yang telah ditempuh BUMN itu untuk mengoptimalkan jalur selatan adalah membuka penerbangan selatan Jawa atau Tango One sejak Oktober 2017.

Novie menyebutkan rute tersebut adalah rute penerbangan domestik pertama berbasis satelit. Selama ini, rute berbasis satelit baru mencakup rute internasional.

“Dengan menggunakan satelit sebagai basis utama navigasi, pengaturan lalu lintas penerbangan akan menjadi lebih presisi dan akurat,” terangnya.

Dia menjelaskan rute selatan Jawa perlu dibuat karena penerbangan di sisi utara pulau Jawa sangat padat. AirNav Indonesia mencatat sekitar 4.000 penerbangan setiap bulan melintasi ruang udara di utara Jawa.

Dia menekankan BUMN itu bertugas mengawal keselamatan penerbangan dengan meningkatkan kapasitas ruang udara dan efisiensi penerbangan. Hal itu ditempuh melalui optimalisasi alternatif jalur dengan konsep penggunaan ruang udara bersama untuk sipil dan militer.

Menurutnya, penerbangan sipil menggunakan jalur selatan dimulai pukul 14.00 – 06.00 waktu setempat sedangkan penerbangan militer mendapat slot waktu pada pukul 06.00 – 14.00 waktu setempat.

Menurut Novie, penerbangan militer tetap dapat menggunakan rute tersebut secara fleksibel, meski telah diatur waktu penggunaannya dengan penerbangan sipil.

Sementara itu, Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Agoes Soebagio menegaskan pihaknya mendorong penggunaan ruang udara di selatan Jawa guna mengurangi kepadatan di utara Jawa.

Menurutnya, ada lima bandara kecil yang bakal digarap tahun ini guna mendukung otimalisasi penerbangan selatan Jawa yakni Bandara Wiriadinata Tasikmalaya, Bandara Nusawiru Pangandaran, dan Bandara Tunggul Wulung Cilacap. Selanjutnya Bandara Wirasaba di Purbalingga dan Bandara Notohadinegoro Jember.

“Di utara sudah sangat padat, maka kami perlu mengembangkan di selatan. Ini sekaligus untuk menumbuhkan perekonomian di wilayah selatan,” ujarnya.

Dia mencontohkan pembukaan penerbangan langsung dari Jakarta ke Tasikmalaya sejak Juli 2017 turut menambah geliat ekonomi di kota tersebut.

Masyarakat bisa menghemat waktu tempuh dari selama ini menempuh 7 jam-8 jam dari Jakarta-Tasikmalaya menggunakan jalur darat menjadi hanya 50 menit dengan menumpang pesawat udara.

Menurutnya, Kemenhub bakal melanjutkan pengembangan Bandara Wiriadinata tahun ini, yakni dengan menambah panjang landas pacu 200 meter sehingga menjadi 1.600 meter. Di samping itu bakal dibangun taxiway dan terminal penumpang baru.

Agus menambahkan pengembangan bandara kecil juga akan menujang operasional bandara besar. Bandara kecil bakal menjadi pengumpan untuk bandara besar sebagai pengumpul. (Rivki Maulana)

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer