Luas Sawah di Flores Timur Bertambah 4 Kali Lipat. Ini Penyebabnya

Oleh: Sri Mas Sari 07 Januari 2018 | 20:45 WIB
Luas Sawah di Flores Timur Bertambah 4 Kali Lipat. Ini Penyebabnya
Ilustrasi: Persawahan di Bali/Antara-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Pertanian menyebut areal persawahan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, bertambah lebih dari empat kali lipat setelah program upaya khusus swasembada pangan menyentuh kabupaten itu.

Siaran pers Kementan menyebut luas areal persawahan padi di kabupaten itu mencapai 5.028 hektare per Desember 2017. Luas itu melesat dari posisi tahun sebelumnya yang hanya 1.070 ha. Itu pun sawah tadah hujan.

Selain membuka lahan tadah hujan, kini telah ada cetak sawah baru didukung TNI-AD dari Kodim 1624 seluas 72 ha pada 2016 dan 40 ha pada 2017. Seluas 39,4 ha di antaranya ditanami padi varietas unggul baru. Flores Timur selama ini dikenal sebagai kabupaten dengan lahan marginal terluas.

Kepala Dinas Pertanian Flores Timur Antonius W. Sogen menyebutkan peningkatan luas itu menunjukkan keseriusan Pemkab Flores Timur berpartisipasi aktif dan mengoptimalkan sederetan bantuan Kementan.

Bantuan itu mencakup alat dan mesin budi daya dan pascapanen hingga perbaikan irigasi dengan pompanisasi dan pipanisasi serta sejumlah bangunan tata air lainnya, seperti dam parit, long storage, dan alat lainnya yang membuat petani bisa bertanam lebih dari satu kali setahun.

“Bahkan tahun 2017 telah ada petani di Tanjung Bunga Flores Timur yang berubah dari petani lahan tadah hujan menjadi petani lahan sawah dengan alsintan," kata Antonius dalam siaran pers itu.

Kini, petani itu siap menjadi penangkar benih padi, minimal untuk kebutuhan petani sekitarnya.

Antonius mengatakan Flores Timur kini telah bisa menyiapkan diri untuk tidak lagi kekurangan pangan, terutama beras. Ini dibuktikan dengan adanya areal tanam padi dan panen padi pada Desember 2017 dan Januari 2018.

“Terlebih ada lahan yang telah disiapkan untuk pertanaman sorghum seluas 1.000 ha di lahan yang sangat kering berbatu dengan kelengkapan teknologi pascapanen dan inovasi pengolahan hasil sorghum, didukung oleh BPTP NTT Badan Litbang Pertanian,” katanya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer