INDUSTRI TPT : Relokasi Dongkrak Ekspor

Pabrikan tekstil dan garmen mulai merasakan kenaikan permintaan dari pasar ekspor, antara lain, terdorong oleh efisiensi dari relokasi pabrik ke Jawa Tengah.
N. Nuriman Jayabuana | 18 Oktober 2017 02:00 WIB
Karyawan mengambil gulungan benang di salah satu pabrik tekstil yang ada di Jawa Barat. - JIBI/Rahmatullah

JAKARTA — Pabrikan tekstil dan garmen mulai merasakan kenaikan permintaan dari pasar ekspor, antara lain, terdorong oleh efisiensi dari relokasi pabrik ke Jawa Tengah.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor tekstil dan garmen periode Januari—September tahun ini mencapai US$9,38 miliar. Angka itu naik 4,69% bila dibanding ekspor tekstil periode yang sama tahun lalu senilai US$8,96 miliar.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat optimistis permintaan dari pasar ekspor melanjutkan tren positif dalam beberapa bulan ke depan.

“Tinggal dilihat bagaimana permintaan pada November Desember, di situ titik tertinggi kenaikan permintaan. Asal tidak ada hambatan, saya rasa ekspor tekstil dan garmen tahun ini sudah pasti bisa tembus US$12 miliar,” ujarnya kepada Bisnis (17/10).

Ekspor tekstil terdiri atas ekspor produk hulu senilai US$3,43 miliar dan ekspor garmen senilai US$5,94 miliar. Produk pakaian jadi menjadi penyumbang terbesar di dalam keseluruhan ekspor tekstil yaitu senilai US5,72 miliar. Benang pintal menjadi penyumbang kedua terbesar dengan nilai ekspor sebesar US$1,41 miliar.

Menurutnya, kenaikan ekspor merupakan buah efisiensi pabrikan tekstil yang sudah ramai-ramai merelokasi pabrik ke Jawa Tengah. Relokasi tersebut memungkinkan pabrikan menghemat biaya lantaran upah minimum lebih kompetitif.

“Bisa dibilang kenaikan ekspor ini buah relokasi industri ke Jawa Tengah. Sesuai perhitungan kita, biaya produksi jadi lebih efisien, daya saing meningkat, dan itu memungkinkan ekspor terus naik,” ujarnya.

Pabrikan tekstil domestik optimistis dapat meningkatkan volume ekspor bila pemerintah dapat merampungkan renegosiasi free trade agreement dengan Eropa dan Amerika Serikat. Sebab produk tekstil asal Indonesia pada kedua tujuan ekspor itu terkena tarif bea masuk yang cukup tinggi, yaitu sebesar 15%.

“Negara lain paling cuma kena tarif 5%—6%, tapi kita sampai 15%, jadi belum apa-apa daya saing sudah kalah duluan. Pemerintah mesti meng-accelerate pembebasan tarif, supaya minimal 2018 beres dan sudah bisa jalan sejak 2019,” ujarnya.

Ade menyatakan pembebasan tarif bea masuk terhadap produk tekstil di Eropa dan AS bukan hanya sebatas mendongkrak ekspor, tapi juga menjamin penyerapan tenaga kerja yang masif.

“Kalau bea masuk Eropa dan AS bisa 0%, saya yakin sekali angka pengangguran di sini bisa turun signifikan dan industrialisasi berjalan lebih mulus,” ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah memproyeksikan nilai ekspor tekstil mencapai US$15 miliar pada 2019. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan perlu meningkatkan realisasi investasi pada sektor industri tekstil untuk mencapai sasaran itu.

Airlangga menyatakan pemerintah mengupayakan bea masuk 0% di dalam penyusunan perjanjian kerja sama komperhensif bilateral dengan AS, Eropa, dan Australia untuk meningkatkan nilai ekspor tekstil.

“Saat ini masih dalam proses negosiasi bilateral agreement tersebut. Bea masuk untuk produk tekstil Indonesia masih dikenakan sebesar 5%—20%. Sementara produk Vietnam sudah 0%,” ujarnya.

Tag : tekstil
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top