TAJUK: Apresiasi Untuk Harga yang Terjaga

Oleh: 13 Juni 2017 | 02:00 WIB
Warga antre untuk membeli sembako murah di Gubug, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (3/6)./Antara-Aloysius Jarot Nugroho

Selama Ramadan dan menjelang Idulfitri tahun ini, ada yang sedikit berbeda. Khalayak tidak lagi terlalu meributkan harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi seperti yang biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Sejatinya, bukannya tidak ada kenaikan harga bahan kebutuhan pokok selama sebulan terakhir dan dua pekan menjelang Lebaran. Namun, ketika keluhan publik tidak terlalu ramai, tentu hal itu bisa kita simpulkan bahwa kenaikan harga masih dalam batas yang wajar.

Harian ini menyampaikan apresiasi kepada semua instansi yang terkait dengan pengamanan harga bahan kebutuhan pokok mulai dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, aparat kepolisian dan TNI, sampai aparatus di tingkat pemerintah daerah.

Apresiasi juga pantas disampaikan kepada badan usaha milik negara (BUMN) yang mendapatkan tugas langsung untuk mengamankan harga bahan pangan serta para pelaku usaha dari kalangan swasta.

Kita masih ingat kejadian pada Lebaran tahun lalu ketika Presiden Joko Widodo harus berbicara keras menyangkut harga daging sapi. Presiden Jokowi meminta agar harga harus turun ke level Rp80.000 per kilogram. Saat itu, harga sudah melejit ke kisaran Rp130.000—Rp150.000 per kg.

Namun, instruksi Presiden itu seperti janji yang tidak terpenuhi. Rakyat tidak bisa menikmati daging sapi seharga Rp80.000 per kg. Ujung-ujungnya pemerintah dan terutama Presiden Jokowi di-bully habis-habisan di media sosial.

Tentu, fenomena harga bahan kebutuhan pokok yang relatif terjaga menjelang Lebaran tahun ini bukan berarti tidak ada lagi spekulan yang bermain. Sudah ‘fitrah’-nya pasti ada yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya memanfaatkan euforia Ramadan dan Idulfitri.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, para spekulan tetap berupaya ‘bermain’ khususnya untuk bahan kebutuhan pokok yang telah telah ditetapkan harga eceran tertinggi (HET)-nya seperti gula pasir, minyak goreng, dan daging sapi.

Sebenarnya, penyakit menahun kenaikan harga semasa Ramadan dan menjelang Lebaran sudah kita ketahui bersama penyebabnya. Rantai distribusi yang ‘dimain-mainkan’ pemain besar, keterbatasan pasokan, dan aksi penimbunan adalah tiga serangkai yang menjadi pemicu utama kenaikan harga.

Obat dari tiga serangkai penyebab kenaikan harga itupun di atas kertas, sebenarnya, kita sudah ketahui bersama. Kalau pasokan bahan pokok tersebut terbatas, ya ditambah dengan impor misalnya. Tentu hal itu dengan persiapan dan perhitungan yang matang jauh-jauh hari, tidak bisa dilakukan dadakan.

Kalau menurut perhitungan, pasokan bahan pokok itu aman tetapi jumlah barang di pasar terbatas, ya bisa kita simpulkan pasti ada aktivitas penimbunan. Aparat kepolisian pasti tidak terlalu sulit untuk mengurai praktik seperti ini. Modus operandi yang berurusan dengan timbun-menimbun ini tidaklah canggih. Apalagi sudah ada UU yang mengatur tindak pidana semacam ini.

Begitu juga dengan rantai distribusi. Dengan pengawasan yang ketat, distribusi barang kebutuhan pokok itu seharusnya bisa berjalan dengan baik sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kenaikan harga.

Secara ringkas, kata kunci dari pencapaian pengamanan harga bahan pokok pada Lebaran tahun ini adalah persiapan yang matang dan penegakan hukum. Apabila dua hal tersebut bisa dijalan dengan baik, maka aksi spekulasi dengan tujuan mencari untung sebesar-besarnya di pasar pasti akan jauh berkurang.

Persiapan yang matang tentu terkait dengan perhitungan pasokan bahan yang harus disiapkan agar harga tidak terus merangkak naik ke tingkat yang membebani masyarakat. Rakyat pasti bisa mengerti kalau ada kenaikan harga barang selama Ramadan dan Lebaran, asalkan masih dalam batas yang wajar.

Harian ini juga meyakini masih lebih banyak pelaku usaha yang mau menjalankan bisnisnya sesuai dengan ketentuan dibandingkan dengan para spekulan yang ingin menarik keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat. Dengan pengawasan dan penegakan aturan, pemerintah juga sudah memberikan rasa adil kepada para pelaku bisnis yang baik karena pemain yang nakal akan mendapatkan hukuman.

Keberhasilan—mudah-mudahan istilah ini tidak terlalu berlebihan—menjaga kestabilan dan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok tahun ini, tentu merupakan pelajaran berharga buat pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Editor: Sutan Eries Adlin

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer