Ketersedian Infrastruktur Kunci Pengembangan Wisata Banten

Oleh: Amanda Kusumawardhani 11 Agustus 2016 | 18:23 WIB
Ketersedian Infrastruktur Kunci Pengembangan Wisata Banten
Selain Pulau Umang, Pantai Carita jadi pilihan berwisata ke Banten/Istimewa

Bisnis.com, TANGERANG—Persatuan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten mendesak Pemerintah Provinsi Banten untuk melakukan pembenahan infrastruktur di kawasan pariwisata pantai Anyer dan Carita.

Pasalnya, Ketua PHRI Banten Achmad Sari Alam menilai pemerintah daerah terlalu fokus mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Padahal, ketersediaan infrastruktur masih minim dan rencana pembangunan jalan tol masih membutuhkan waktu cukup lama.

“Saya kira pemerintah harus realistis saat ini, pantai Anyer dan Carita kan sudah merupakan wisata yang sudah dikenal. Sayangnya, keberadaannya masih belum didukung dengan infrastruktur yang layak,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (11/8).

Tak hanya itu, kawasan tersebut juga lebih banyak dikenal oleh wisatawan nusantara dibandingkan wisatawan mancanegara. Obyek wisata lainnya misalnya kawasan Banten lama atau

Banten terbilang menarik sebagai destinasi wisata mengingat terdapat lebih dari 500 objek wisata di berbagai penjuru kabupaten dan kotanya. Mayoritas adalah wisata sejarah berjumlah 185 objek, sedangkan yang lain berupa wisata marina atau pantai ada 85 objek.

Secara umum, ada 18 kawasan pengembangan wisata di Banten tetapi hanya delapan yang terbilang sudah berkembang. Mayoritas berlokasi di Kabupaten Pandeglang dan beberapa lainnya berada di Lebak dan Serang.

Kawasan pengembangan wisata yang bertumbuh dengan baik ialah wisata religi Banten lama di Kota Serang, Pantai Anyer di Kabupaten Serang, Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, dan Pantai Sumur (Pulau Umang di Kabupaten Pandeglang.

Selain itu, ada pula Pantai Carita yang juga di Pandeglang, Budaya Suku Baduy di Kabupaten Lebak, Pantai Sawarna di Kabupaten Lebak, terakhir Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung di daerah Kabupaten Pandeglang.

“Dalam jangka panjang, KEK Tanjung Lesung memang menjanjikan, tapi bukan berarti objek lainnya tidak diperhatikan. Contohnya saja jalan menuju kawasan pantai Anyer dan Carita terlalu sempit untuk dilewati bus,” tambahnya.

Jika mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan mancanegara (waisman) sepanjang tahun lalu mencapai 986.519 orang dengan kotribusi kunjungan melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta sekitar 20% atau 198.519.

Dari jumlah tersebut, wisman yang memilih untuk menghabiskan liburannya ke Banten langsung berkurang menjadi 127.000 pada periode yang sama.

Dirinya mencatat kebanyakan wisatawan mancanegara (wisman) yang mengunjungi Banten berasal dari Korea Selatan, China, Taiwan, dan Jepang. Kendati demikian, kunjungan mereka dinilainya tidak murni pariwisata karena mereka termasuk pengusaha di sejumlah kabupaten/kota di Banten.

Hal tersebut mengacu pada sebaran investor mancanegara di Banten yang didominasi oleh Singapura dengan nilai investasi US$274 miliar, diikuti oleh Jepang senilai US$188 miliar, dan China US$150,9 miliar pada kuartal II/2016.

Adapun, nilai investasi tertinggi Penanaman Modal Asing (PMA) berada di Kota Cilegon senilai US$236,8 juta, disusul Kabupaten Serang US$229,5 juta, Kabupaten Tangerang US$146,5 juta, dan Kota Tangerang Selatan US$64,5 juta pada periode yang sama.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten Opar Suhari berharap dengan adanya pengoperasian Terminal 3 Ultimate di Bandara Internasional Soekarno Hatta mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan domestik.

“Banten harus bisa berkompetisi dengan objek wisata di Cianjur, Bogor [kawasan puncak]. Oleh karena itu, kami aktif mengadakan sejumlah event untuk menarik kunjungan wisatawan,” tuturnya.

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya