Inflasi Dipatok 4%, Pemprov Banten Jamin Rantai Distribusi Lancar

Oleh: Amanda Kusumawardhani 09 Agustus 2016 | 22:33 WIB
Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, TANGERANG—Pemerintah Provinsi Banten mengaku optimistis mampu menjaga pergerakan inflasi di kawasan ini di level 4% atau setara dengan target inflasi nasional sepanjang tahun ini.

Pasalnya, pola inflasi Banten sejalan dengan inflasi nasional yang sangat dipengaruhi oleh kenaikan komoditas administered price (BBM, tarif listrik), kenaikan permintaan volatile foods (hari raya keagamaan, hari libur), dan kenaikan penawaran (paceklik, hambatan distribusi).

Per Juli 2016, inflasi Banten mencapai 0,44% (month-to-month/mtm) yang dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas antara lain daging ayam ras, bawang merah, tarif listrik, dan tarif angkutan umum antar kota.

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu sebesar 0,83%, inflasi kali ini tercatat lebih rendah. Padahal, Juli 2015 dan Juli 2016 juga merupakan momen puasa dan lebaran.

“Perkembangan inflasi pada semester I/2016 di Banten terpantau stabil daripada periode sebelumnya. Tren inflasi di Banten dan nasional hampir sama karena lokasi yang berdekatan, serta kesamaan rantai distribusi,” kata Mahdani, Kepala Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Banten kepada Bisnis, Selasa (9/8).

Secara spasial, dirinya menilai pergerakan inflasi Banten cenderung lebih mirip dengan inflasi Jakarta. Hal ini dapat dipahami mengingat barang-barang di Provinsi Banten banyak dipasok dari daerah lain.

Ketergantungan tersebut juga diperparah dengan kondisi infrastruktur yang terbatas sehingga berpeluang memacu biaya logistik bahan pokok yang dikirim ke Banten. Berdasarkan Kajian Ekonomi Regional yang dirilis Bank Indonesia Banten, biaya distribusi bahan pangan dari dan ke Pasar Induk Tanah Tinggi memiliki peranan hingga 14%-16% terhadap pembentukam harga produk.

“Sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi, kami harus membuat strategi khusus untuk menjaga pergerakan inflasi tak tergerus dengan pertumbuhan ekonomi. Percuma pertumbuhan ekonomi Banten tinggi jika tidak diikuti dengan inflasi yang stabil,” ucapnya.

Secara khusus, Mahdani mengaku pemprov sudah melakukan sejumlah strategi untuk menjaga laju harga komoditas pokok agar tetap stabil, salah satunya dengan menggelar Warung Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk pertama kalinya pada tahun ini.

Dalam jangka pendek, dirinya menilai Warung TPID diharapkan menjadi salah satu instrumen dalam menjaga fluktuasi inflasi Banten. Sebaliknya, dalam jangka panjang, Mahdani menjelaskan pemprov akan terus menjaga kelancaran arus kelancaran distribusi guna menjamin pergerakan inflasi tetap stabil.

Adapun, persoalan inflasi di daerah kebanyakan disebabkan oleh disparitas harga antar daerah akibat inefisiensi struktur mikro pasar, panjangnya jalur distribusi dan infrastruktur penunjang serta tata niaga perdagangan komoditas yang panjang.

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya