Ekonomi Banten Masih Melambat, BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Kredit

Oleh: Amanda Kusumawardhani 14 Juli 2016 | 11:00 WIB
Bank Indonesia/Ilustrasi-Bisnis

TANGERANG—Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten memprediksi tren perlambatan penyaluran kredit di kawasan ini bakal berlanjut di kuartal II/2016.

Hal tersebut sejalan dengan langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memangkas proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini yang semula diperkirakan mencapai12%-14%.

“Faktanya, pertumbuhannya terus menunjukkan perlambatan. Hal ini juga dipengaruhi oleh pengaruh global sehingga dunia usaha masih mengandalkan dana sendiri untuk mengelola bisnisnya,” kata kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Budiharto Setyawan kepada Bisnis, Kamis (14/7).

Berdasarkan data Kajian Ekonomi Regional, penyaluran kredit perbankan di Banten menjadi Rp238,79 triliun, atau tumbuh 13,71% pada kuartal I/2016 (yoy). Angka tersebut memang melambat dibandingkan capaian penyaluran pembiayaan pada kuartal I/2015 dan kuartal I/2014 yang tumbuh masing-masing 13,26% dan 23%.

Adapun, komponen kredit modal kerja masih mendominasi kinerja pembiayaan perbankan Banten senilai Rp99,76 triliun, atau naik 13% dibandingkan realisasi kuartal yang sama tahun lalu Rp88,27 triliun.

Kredit konsumsi menempati peringkat kedua sebagai pembiayaan terbesar dalam komponen pembiayaan senilai Rp72,94 triliun dan kredit investasi Rp66,1 triliun. Pangsa kredit konsumsi sendiri masih stabil sebesar 30,5% sedangkan kreditinvestasi 27,7%.

Perlambatan kredit tersebut juga dilatarbelakangi oleh situasi perlambatan ekonomi di Banten menjadi 4,92% atau lebih rendah dari realisasi pertumbuhan kuartal I/2015 yakni 5,51%. Salah satunya akibat penurunan industri dan kontruksi pada kuartal kali ini.

“Pertumbuhan kredit tetap tumbuh, cuma ya trennya melambat. Kami berharap kredit mulai terpacu pada kuartal-kuartal selanjutnya,” tuturnya.

Pada tahun ini, BI Banten masih optimistis dengan prediksi pertumbuhan kredit sebelumnya di kisaran 12%-14% pada tahun ini. Prediksi itu dilatarbelakangi oleh era pelonggaran moneter dan perbaikan ekonomi regional.

Sejak awal tahun ini, Bank Indonesia tercatat telah memangkas suku bunga acuan hingga ke level 6,5%. Hal itu juga diikuti dengan penurunan suku bunga deposit facility dan lending facility menjadi masing-masing 4,5% dan 7%.

Tak berhenti sampai disitu, BI juga menurunkan BI 7 day (Reverse) Repo Rate 25 basis poin menjadi 5,25%. Di sektor makroprudensial, BI melakukan relaksasi Loan to Value Ratio (LTV) dan Financing to Value Ratio (FTV) guna memacu kredit sektor perbankan.

“Dampaknya akan kecil untuk kuartal II/2016, tetapi akan terlihat menonjol pada kuartal selanjutnya yakni periode Juli-September 2016,” kata Manajer Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan BI Provinsi Banten Jenidar Oseva.

Editor: Gita Arwana Cakti

Berita Terkini Lainnya