Properti ala Negeri Sakura di Tangerang

Oleh: Dini Hariyanti 27 November 2015 | 16:52 WIB
Properti ala Negeri Sakura di Tangerang
Ilustrasi/Reuters

Bisnis.com, TANGERANG—Tokyu Land Indonesia menggaungkan proyek properti yang digarap hanya oleh pengembang asal Jepang, demikian citra yang mereka usung. Lantas seperti apa sebetulnya bisnis properti khas pengembang Negeri Sakura? Bagaimana isi benak mereka melihat potensi pasar properti di ibu kota maupun kota penyangganya? Simak petikan wawancara Bisnis.com dengan Direktur Tokyu Land Indonesia Tai Horikawa berikut ini.

 

Sebagai salah satu pengembang skala global yang ada di Indonesia, apa karakter khas Tokyu Land dalam menggarap proyek di sini?

Kami selalu memilih lokasi proyek berdasarkan tiga aspek. Pertama, kami mencari area yang di sekitaran CBD atau kawasan pusat bisnis. Kedua, untuk proyek di Indonesia kami lebih mengincar wilayah di selatan Jakarta. Dan ketiga, kami mencari tanah yang ada di luar Jakarta jaraknya sekitar 20 sampai 30 kilometer, seperti kondominium Branz di BSD City, Tangerang. Proyek ini lebih dekat kepada kategori yang ketiga. 

Terkait proyek baru kondominium tiga menara Branz BSD, apa alasan Tokyu Land Indonesia memilih kawasan ini?

Saat kami beli tanah di sini, di sini masih kosong dan belum berkembang. Kami dengar informasi dari Sinarmas bahwa di wilayah ini ke depan akan menjadi pusat bisnis yang semakin padat. Dan itu terbukti, sekarang sudah ada Mal Aeon, perkantoran, kampus, dan gedung pameran Indonesia Convention Exhibition. Ini menunjukkan pembangunan di BSD sangat terencana. Selain itu di sini juga situasinya seperti lingkungan proyek kondominium kami di Jepang, ada trotoar dan banyak pepohonan. 

Bagaimana Anda memandang potensi bisnis properti di wilayah penyangga Jakarta, seperti Tangerang?

Kami masuk ke Indonesia ingin menekankan bahwa proyek yang kami bangun adalah properti yang dikembangkan oleh hanya perusahaan Jepang saja.  [Prospek Tangerang] seperti di BSD, kawasan pusat bisnis di sini terus berkembang sejalan dengan adanya pusat perbelanjaan, kantor, kampus, dan gedung pameran [terbesar di Asia Tenggara]. Jadi pada masa mendatang tentu bernilai tinggi.

Selain ekspatriat, seperti apa target market dari proyek kondominium yang digarap Tokyu Land Indonesia?

Kami targetnya fokus kepada masyarakat kelas atas, baik mereka yang membeli untuk investasi maupun end user [pemilik]. Seperti di BSD ini, di sini ada perusahaan, jadi bisa juga mereka yang beli. Yang pasti kami fokus kepada individu dan korporasi Indonesia. 

Apakah ada rencana perusahaan untuk bermain di bisnis hunian tapak?

Selain kondominium, sebetulnya kami ada proyek lain berupa pengembangan kota baru [hunian tapak] di Bekasi, Jawa Barat. Di area sektiar 10 hektare akan dibangun hunian baru. Kami memang berencana mengembangkan bermacam hunian, salah satunnya konsep kota baru dan yang lainnya adalah kondominium. 

Bagaimana menurut Anda prospek properti di Indonesia, khususnya pada tahun depan?

Pasar properti sejalan dengan perkembangan ekonomi, terjadi perlambatan jika dibandingkan dengan 2014, properti juga kena. Hal ini terpengaruh perlambatan ekonomi di China dan Amerika Serikat. Untuk tahun depan sendiri, pemerintahan Jokowi kan baru dua tahun sehingga mereka masih meraba kedepannya harus bagaimana. Tapi kami masih yakin dengan potensi pasar properti di Indonesia, karena pemerintah sendiri juga terus bergerak mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi [untuk memperbaiki kondisi domestik].

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer